Polri Usut Kejanggalan Saldo Rp22 M Raib dari Maybank

Jakarta, Nuswantara.id – Polri memeriksa sejumlah pihak terkait dugaan kejanggalan saldo Rp22 miliar milik atlet e-sport Winda Lunardi yang raib di Maybank Cipulir.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Polri Brigadir Jenderal Awi Setiyono mengatakan sudah ada 23 saksi dari pihak Maybank dan pihak luar yang diperiksa untuk mengusut dugaan aliran dana di rekening Winda.

“Ya sudah (diperiksa), kan saya sampaikan di Bareskrim, sudah sampai 10 pihak Maybank diperiksa, ada 13 pihak luar,” kata Awi kepada wartawan di Mabes Polri, Jakarta, Selasa (10/11).

Dugaan kejanggalan ini sebelumnya disampaikan kuasa hukum Maybank, Hotman Paris Hutapea. Ia menyebut ada aliran dana dari rekening Winda ke Prudential, namun ditransfer oleh Kepala Cabang Maybank Cipulir A, untuk pembelian polis asuransi senilai Rp6 miliar.

Hotman menduga A yang telah menjadi tersangka itu melakukan praktik permainan ‘bank dalam bank’ dengan mengakses uang milik nasabah.

Meski demikian, Awi tak menjelaskan lebih lanjut terkait tudingan Hotman tersebut.

Menurutnya, penjelasan dari Hotman sudah masuk ke materi penyidikan yang nantinya akan diungkap dalam persidangan.

“Silakan saja itu, itu kan haknya mereka. Penyidik akan mengungkap apa yang terjadi,” ucap Awi.

“Saya sudah baca itu rilisnya (soal kejanggalan) di berita-berita ada beberapa poin,” tambahnya.

Sebelumnya, Hotman menyatakan pembelian polis asuransi menggunakan uang Winda oleh tersangka A.

Menurut Hotman, transaksi itu menjadi salah satu kejanggalan dalam kasus raibnya saldo Rp22 miliar dari tabungan Winda di bank swasta itu.

Kemudian uang yang dibelikan polis itu justru kembali ditransfer ke rekening ayahnya, Herman Lunardi senilai Rp4,8 miliar. Selain itu, setidaknya ada delapan orang yang diduga menerima aliran dana itu.

Oleh sebab itu, Hotman meminta penyidik mendalami transaksi tersebut.

“Yang saya bilang tadi, semua yang terima uang ini yang ada di sini, delapan harusnya diperiksa,” ucapnya.

Dalam perkara ini, Polri sudah menetapkan A sebagai tersangka. Ia diduga membobol saldo ATM korban dengan modus melalui iming-iming sejumlah keuntungan dalam skema tabungan berjangka kepada korban.

Setelah ditelusuri, ternyata tabungan tersebut fiktif. Namun, hal itu justru dibantah oleh pihak Maybank Indonesia yang menyatakan bahwa sebenarnya buku tabungan dan kartu ATM milik korban selama ini dipegang oleh tersangka. (dea/cnnindonesia)

SHARE

Leave a Reply