Penjelasan Ilmiah Hujan Meteor yang Bombardir Langit RI

Hujan Meteor
ilustrasi (Dokumen Istimewa)

Jakarta, Nuswantara.id – Bombardir hujan meteor Quadrantid menandakan fenomena alam angkasa pertama di Indonesia pada 2020, tepatnya pada 4 Januari.

Lembaga Pener­bangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menjelaskan hujan meteor terjadi karena bumi berpapasan dengan benda angkasa yang lewat dan debu batuan yang terbawa masuk ke dalam atmosfer bumi. Pertemuan ini mengakibatkan sebuah gesekan antara atmosfer Bumi dengan meteoroid yang datang dari luar atmosfer Bumi.

Benda angkasa ini berpapasan dengan Bumi karena ia juga mengorbit ke Matahari. Benda angkasa ini habis terbakar dengan panas 1.650 derajat celsius saat memasuki atmosfer. Proses pembakaran ini yang dilihat mata manusia sebagai meteor jatuh.

“Gesekan ini mengakibatkan panas yang menghancurkan meteoroid tersebut dan menghasilkan panas dan cahaya yang muncul dalam bentuk lintasan di langit. Biasanya peristiwa terbakarnya meteoroid ini berlangsung pada ketinggian 70-100 km dari permukaan Bumi,” kata Peneliti LAPAN, Gunawan Admi­ranto dalam keterangan resmi, Jumat (3/1).

Gunawan mengatakan kadang ada satu periode di mana peristiwa munculnya meteor ini berlangsung lebih sering dari biasanya. Kemudian lintasan hujan meteor tampak seperti muncul dari satu daerah tertentu di langit. Peristiwa inilah yang kemudian dinamakan hujan meteor.

Peristiwa ini dinamakan hujan meteor karena dari satu titik ini tampak muncul berkali-kali lintasan cahaya meteor, dan selanjutnya titik ini diberi nama radiant.

“Untuk memudahkan identifikasi pada peristiwa hujan meteor ini, titik radiant ini kemudian dikaitkan dengan rasi/konstelasi yang terdekat dengan titik tersebut,” kata Gunawan.

Gunawan mengungkapkan para astronom telah mencatat banyak peristiwa hujan meteor dan fenomena ini ternyata berlangsung pada tanggal-tanggal tertentu setiap tahunnya. Para astronom kemudian berasumsi bahwa hal tersebut berkaitan dengan orbit Bumi mengelilingi Matahari.

“Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa ini terjadi ketika Bumi melewati daerah yang ditempati debu komet atau asteroid, dan saat itu debu komet/asteroid tersebut memasuki atmosfer Bumi dan menghasilkan fenomena hujan meteor,” kata Gunawan. (dea/cnnindonesia)

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here